Sumary
buku Schleiermacher:Hermeneutics Criticism
bagian
Satu
penjelasan
gramatikal
oleh:
HADARI
Makna sebenarnya sebuah teks
didapatkan dengan rekonstruksi historis saat teks tersebut ditulis. Jadi apa
yang dimaksud oleh sebuah teks bukanlah apa yang kelihatannya dikatakan kepada
sang pembaca. Dalam pembacaan teks, Schleiermacher berpendapat bahwa
interpretasi dapat dicapai dengan dua cara, yaitu ketata-bahasaan dan
psikologis (grammatical and psychological interpretation) yakni:
Interpretasi (penafsiran) gramatikal,
yang berkaitan dengan aspek linguistik yang membentuk batasan-batasan di mana
sebuah kegiatan berpikir diatur. Dalam penafsiran ini, pendekatan yang
digunakan dengan menggunakan metode komparatif yang bermula dari yang umum ke
yang khusus. Penafsiran disebut juga penafsiran obyektif serta dapat juga
dikatakan penafsiran negatif. Hal ini disebabkan hanya menunjukkan batas-batas
pemahamannya saja. Interpretasi tata-bahasa berfungsi untuk menyingkap arti
sebuah kata dan interpretasi.
Penafsiran psikologis, yang berusaha
menciptakan kembali tindak kreatif yang menghasilkan teks dan kegiatan sosial.
Penafsiran psikologi melibatkan
penempatan seseorang dalam pikiran penulis atau actor social supaya
dapat mengetahui apa yang diketahui oleh seorang penulis atau yang dipersiapkan
dalam kegiatan social. Hal ini merupakan proses yang memerlukan banyak tenaga
untuk menyusun konteks kehidupan tempat suatu kegiatan terjadi dan mendapatkan
makna. Dalam penafsiran ini, pendekatan yang digunakan dengan metode komparasi
dan semacam ramalan. hermeneutika memang bermula dari analisis psikologis akan
tetapi akhirnya harus dikembangkan ke konteks social yang lebih luas. Dia juga
berpendapat bahwa sebuah fenomena harus ditempatkan pada situasi keseluruhan
yang lebih luas tempat fenomena tersebut mendapatkan maknanya, bagian-bagian
memperoleh pemaknaan dari keseluruhan
dan keseluruhan mendapatkan pemaknaan dari bagian-bagian. Jadi yang menjadi
penekanannya bergeser dari pemahaman empatik atau rekonstruksi proses mental
orang lain ke arah penafsiran hermeneutik tentang produk budaya struktur
konseptual.
Menurut saya dalam metode ini pelaku
hermeneutika mentransformasikan dirinya dalam diri penulis untuk menggali
proses mentalnya. Penafsiran ini disebut juga penafsiran teknis. Melalui
penafsiran inilah tugas seorang hermeneutic terpenuhi. Selain disebut sebagai
penafsiran teknis, penafsiran ini juga disebut penafsiran positif karena
berusaha memahami tindak berpikir yang melahirkan wacana. Psikologis berfungsi
untuk mengetahui motif pengarang ketika menulis teks tersebut.
Schleiermacher juga menegaskan bahwa
makna setiap kata harus dipahami sebagai bagian dari keseluruhan mental
pengarang. Ketika tahapan ini dicapai, maka seorang penafsir dapat memahami
teks sebaik pengarang atau bahkan lebih baik darinya dan memahami diri sang
pengarang lebih baik dari pengarang memahami dirinya sendiri.
Schleiermacher memberi penjelasan
tentang bagaimana suatu kata dapat di pahami sebagai satu kesatuan yang tak
terpisahkan seperti, seperti arti dan makna penggunaan bahasa tertentu. Beberapa
orang berpendapat bahwa menyebutkan apa yang mengerti dengan kaitannya dengan
kata dan maknanya sendiri, tapi pendapat orang demikian merupakan dalam konteks
tertentu saja. Kata yang memiliki arti dan tidak masuk akal sebenarnya adalah
menyesuaikan dengan proposisi untuk maknanya sendiri tetapi belum memiliki
signifikansi yang hanya di ucapkan oleh orang-orang tertentu.
Menurut Schleiermacher, ada jurang
pemisah antara berbicara atau berfikir yang sifatnya internal dengan ucapan
aktual. Seseorang harus mampu mengadaptasi buah pikiran ke dalam kekhasan lagak
ragam dan tata bahasa. Dalam setiap kalimat yang diucapkan, terdapat dua momen
pemahaman, yaitu apa yang dikatakan dalam konteks bahasa dan apa yang
dipikirkan oleh pembicara. Setiap pembicara mempunyai waktu dan tempat, dan
bahasa dimodifikasi menurut kedua hal tersebut. Menurut Schleiermacher,
pemahaman hanya terdapat di dalam kedua momen yang saling berpautan satu sama
lain itu. Baik bahasa maupun pembicaranya harus dipahami sebagaimana
seharusnya.
Menurut Schleiermacher, ada dua
tugas hermeneutika yang pada hakikatnya identik satu sama lain, yaitu
intrepretasi gramatikal dan interpretasi psikologis. Bahasa gramatikal
merupakan syarat berpikir setiap orang. Sedangkan aspek interpretasi psokologis
memungkinkan seseorang menangkap ‘setitik cahaya’ pribadi penulis. Oleh
karenanya, untuk memahami pernyataan-pernyataan pembicara orang harus mampu
memahami bahasanya sebaik memahami kejiwaannya. Semakin lengkap pemahaman
seseorang atas sesuatu bahasa dan psikologi pengarang, akan semakin lengkap
pula interpretasinya. Kompetensi linguistik dan kemampuan mengetahui seseorang
akan menentukan keberhasilannya dalam bidang seni interpretasi.[15]
Schleiermacher menekankan bahwa distingsi-distingsi, termasuk pendekatan
gramatikal dan psikologis, ini tidak boleh dipertentangkan, melainkan harus
diterapkan sekaligus untuk memahami suatu teks, sebab semua ini saling
memerlukan dan melengkapi.
Walaupun demikian, Schleiermacher
menawarkan sebuah rumusan positif dalam bidang seni interpretasi, yaitu
rekonstruksi historis, objektif dan subjektif terhadap sebuah pernyataan.
Dengan rekonstruksi objektif-subjektif dia bermaksud membahas sebuah pernyataan
dalam hubungan dengan bahasa sebagai keseluruhan. Dengan rekonstruksi
subjektif-historis dia bermaksud membahas awal mulanya sebuah pernyataan yang
masuk dalam pikiran seseorang. Schleiermacher sendiri menyatakan bahwa tugas
hermeneutik adalah memahami teks “sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya
sendiri” dan “memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri
sendiri”. Schleiermacher mengatakan bahwa pemahaman kita peroleh dengan melihat
bagaimana semua bagian itu berhubungan satu sama lain. Rekonstruksi menyeluruh
koherensi suatu teks tidak akan pernah lengkap jika detail-detailnya tidak
diperhatikan. Keseluruhan proses ini adalah metode hermeneutik, suatu proses
memahami dan interpretasi.
Menurut Schleiermacher, ada dua
metode untuk mendapatkan pemahaman yang benar yaitu komparatif dan divinatoris.
Metode komparatif bekerja dengan menempatkan pengarang dalam suatu tipe umum.
Metode ini lebih bersifat klasifikatoris untuk keperluan komparasi antara satu
teks dengan teks lain atau satu pengarang dengan pengarang lain. Metode ini
ditempuh dengan membuat perbandingan antara teks-teks yang ada, dan juga antara
aneka terjemahan, serta mempelajari konteks hidup pengarang, tokoh dan aliran
yang berpengaruh pada zamannya. Cara ini terkait dengan segala sesuatu yang bisa
menjadi referensi untuk memahami dengan tepat suatu teks.
Sedangkan metode divinatoris
merupakan cara intuitif untuk memahami suatu teks. Hal ini dilakukan, misalnya,
dengan membuat diri betah dan ‘masuk’ ke dalam teks itu (Einleben). Metode
divinatoris berupaya memeroleh pemahaman langsung tentang si pengarang sebagai
individual dengan membawa sang penafsir untuk mentransformasi dirinya ke dalam
diri si pengarang. Menurut Schleiermacher, cara intuitif seperti ini dapat
ditemukan di dalam diri anak-anak. Seorang anak, misalnya, akan mengalami apa
itu ‘cinta’, ‘kepercayaan’, ‘iman’, ‘bahaya’ tanpa penyelidikan lebih dahulu,
melainkan langsung saja menghayatinya dalam sikap pasrah-aktif kepada ibu dan
lingkungannya. Dalam hal ini, Schleiermacher menekankan hermeneutika sebagai
seni dimana seorang penafsir harus mampu menggunakan daya imajinasi-intuisi,
tebak-tebakan kreatif, untuk secara jitu menebak maksud pengarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar